top
logo

Kharisma News

Login Form

Tantangan Dan Peluang Gereja Dalam Rangka Melayani Masyarakat Kota

By : Ferry Simanjuntak

Ferry Simanjuntak adalah Mahasiswa Pascasarjana (S2) Magister Theology STT Kharisma Bandung

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

Masyarakat kota selalu mendapat perhatian yang serius di dalam Alkitab, baik di dalam Perjanjian Lama maupun di dalam Perjanjian Baru.  Hal ini dapat terlihat melalui beberapa persistiwa, seperti:  ketika Allah menghendaki agar Israel memperhatikan kesejahteraan kota di mana mereka tinggal karena kesejahteraan kota itu adalah juga kesejahteraan mereka (Yeremia 29:7).  Melalui kisah Yunus, terlihat bahwa Allah pun sangat merindukan pemulihan atas kota (Yunus 1:2).  Di dalam Kisah Para Rasul kita dapat melihat bahwa Paulus menjadikan kota-kota strategis secara geografis, seperti: Filipi, Efesus, Korintus dan Roma untuk menjadi sasaran pelayanan misinya.

Kota berkembang amat cepat sehingga menarik minat banyak orang untuk mengadu nasib di kota.  “Hal ini dapat diamati dari perkembangan penduduk kota. Pada tahun 1900 penduduk dunia yang tinggal di kota hanya 5 %, tetapi pada hari ini jumlah itu melonjak menjadi 50 % dan diperkirakan pada tahun 2020 akan menjadi 75 %.”[1]

Kota yang berkembang amat cepat telah menimbulkan arus urbanisasi yang sangat sulit dibendung.  Orang-orang yang datang ke kota tidak selalu mempunyai pendidikan dan ketrampilan yang memadai dan sering kali tidak siap mengikuti perkembangan dan perubahan yang terjadi di kota.  Akibatnya mereka mengalami stress karena tidak sanggup berkompetisi.  Tekanan sering dirasakan amat berat.  Di kota seringkali orang berkompetisi negatif untuk memperoleh kepuasan sesaat.  Perkembangan masyarakat kota yang sedemikian cepat pada akhirnya menimbulkan masalah-masalah perkotaan yang bersifat akud, seperti: (1) Masalah kerja dan pengangguran serta dinamika sosial di dalamnya seperti: hubungan majikan dengan pekerja; (2) Ketimpangan sosial yang sangat tajam antara si kaya dan si miskin; (3) Perkawinan dan perceraian karena perubahan konsep/nilai-nilai terhadap perkawinan; (4) Masalah-masalah moral, seperti: perselingkuhan, aborsi, hedonisme, materialisme, pergaulan bebas; (5) Stress dan depresi - terjadi peningkatan jumlah orang stress dan depresi yang signifikan; (6) Sadisme dan kekerasan.  Hal senada juga disampaikan oleh Manullang: “ Dengan berkembangnya suatu kota akan meningkatkan juga hal-hal yang negatif dan kejahatan. Kota-kota semakin dipenuhi prostitusi, narkotika, obat-obatan, perjudian, kriminalitas, ketidakadilan.”[2] 

Menurut Jantje Haans, gereja yang melayani masyarakat kota pada masa kini sedang menghadapi tantangan-tantangan baru dan sekaligus peluang-peluang pelayanan baru.  Ia mengatakan:

“Kita masih bersyukur bahwa umat Kristen Indonesia di kota-kota masih
membutuhkan bahkan mencari gereja sebagai sebuah jawaban akan kebutuhan-
kebutuhan rohani. Di beberapa negara maju seperti Amerika maupun Eropa,
banyak gereja yang telah kosong bahkan dijual menjadi tempat-tempat bisnis,
karena dianggap tidak lagi dapat memberi jawab kepada persoalan-persoalan
rohani manusia. Kehadiran gereja di kota pada masa kini telah menghadapi
tantangan-tantangan baru, namun sekaligus juga peluang-peluang pelayanan
baru. Gereja-gereja di kota harus mampu menjawab kebutuhan-kebutuhan
rohani warga jemaat sesuai dengan dinamika hidup masyarakat di perkotaan.”[3]

Lebih jauh Haans, mengatakan:

“Gereja di perkotaan menghadapi masalah-masalah heterogenitas seperti:
Masalah-masalah sosial; moral; tindak kekerasan; pola baru dalam bekerja;
persoalan-persoalan ekonomi; masalah keluarga; membesarkan anak; stress dan
depresi; masalah-masalah politik; hubungan lintas agama; ledakan penduduk
dan heterogenitas masyarakat. Gereja harus dapat memberi jawab akan
persoalan-persoalan tersebut, sehingga kehadiran gereja masih dianggap
relevan dan merupakan kebutuhan.”[4]

Dan berdasarkan pengamatannya, Haans melihat bahwa warga gereja di kota Bandung cenderung mencari gereja-gereja yang mampu memberi jawab terhadap persoalan-persoalan hidup yang mereka hadapi.  Haans berkata:

“Di kota Bandung warga gereja telah mulai memiliki kecenderungan mencari
gereja yang “dianggap mampu” memberi jawab terhadap persoalan-persoalan
hidup yang dihadapi, dan tidak lagi mempersoalkan masalah-masalah doktrin.
Gereja-gereja yang statis dan tidak bergerak mulai ditinggalkan dengan alasan
bahwa gereja yang bersangkutan tidak dapat memberi jawab atas persoalan-
persoalan hidup yang dihadapi. Bahkan saat ini beberapa gereja yang dianggap
statis dengan berat hati harus tutup, karena seluruh anggotanya berpindah
kepada gereja yang dianggap mampu membawanya kepada pertumbuhan
rohani.”[5]

BAB II

TANTANGAN DAN PELUANG GEREJA DALAM

MELAYANI MASYARAKAT PERKOTAAN

Tantangan Gereja Dalam Melayani Masyarakat Perkotaan

Dinamika kehidupan masyarakat kota yang kompleks pada akhirnya juga menimbulkan tantangan pelayanan yang kompleks bagi gereja.  Sebagaimana telah diketahui bahwa masyarakat kota terbentuk melalui arus urbanisasi yang mana urbanisasi itu sendiri adalah masalah yang cukup serius.  Persebaran penduduk yang tidak merata antara desa dengan kota akan menimbulkan berbagai permasalahan kehidupan sosial kemasyarakatan.  Jumlah peningkatan penduduk kota yang signifikan tanpa didukung dan diimbangi dengan jumlah lapangan pekerjaan, fasilitas umum, aparat penegak hukum, perumahan, penyediaan pangan tentu akan menimbulkan masalah-masalah yang pelik di kemudian hari.  Dan masalah-masalah itu pada gilirannya menjadi tantangan dan sekaligus peluang bagi gereja yang melayani masyarakat perkotaan.

Dalam uraiannya Soerjono Soekanto menyebutkan beberapa masalah yang timbul di perkotaan akibat urbanisasi:

Satu.  Perluasan wilayah kota tanpa diimbangi dengan tata kota (plannologi) yang baik.  Orang yang sudah meninggalkan tempat tinggalnya di desa, mempunyai kecenderungan untuk tetap tinggal di kota kecuali apabila ada keperluan penting.  “Di dalam rangka ini, kemungkinan besar urbanisasi mengakibatkan perluasan kota, karena pusat kota tidak akan mungkin menampung perpindahan penduduk desa yang begitu banyak. Timbullah tempat-tempat tinggal yang baru di pinggiran kota.”[6]

Dua.  Timbulnya pengangguran.  Menurut Soekanto:

“Penduduk desa yang berbondong-bondong mencari pekerjaan di kota,
menjumpai kekecewaan yang besar, karena besarnya jumlah mereka yang
mencari pekerjaan, maka timbul persaingan yang datang dari penduduk kota
sendiri.  Orang-orang desa tidak mengerti bahwa mereka harus berjuang
sendiri; di kota tak akan ada orang lain yang mau membantu. Cita-cita yang
muluk akhirnya terhambat, lalu timbul pengangguran yang pada akhirnya
mengakibatkan meningkatnya tuna karya.”[7]

Tiga.  Meningkatnya tuna susila dan kriminalitas.  Selanjutnya Soekanto menyebutkan adanya korelasi antara pengangguran dengan peningkatan tuna susila dan kriminalitas.

“Persoalan meningkatnya tuna karya secara korelatif mengakibatkan
meningkatnya tuna susila, dan meningkatnya kriminalitas. Kriminalitas yang
mula-mula didorong oleh rasa lapar, dapat berubah menjadi suatu pekerjaan
tetap, sehingga timbullah organisasi penjahat yang sangat sukar untuk dicegah
dan diberantas.  Gejala semacam itu banyak dijumpai di kota-kota besar seperti
Jakarta, Surabaya dan lain sebagainya.”[8]

Empat. Timbulnya perkampungan kumuh.  “Pertambahan penduduk kota yang pesat, mengakibatkan pula persoalan pewismaan.  Orang-orang tinggal bersempit-sempit dalam rumah-rumah yang tidak memenuhi persyaratan sosial maupun kesehatan.”

Lima.  Timbulnya masalah kesehatan dan pendidikan.  Kembali Soekanto menandaskan bahwa: “Keadaan yang demikian (rumah-rumah yang tidak memenuhi persyaratan) memberi akibat negatif dalam bidang kesehatan dan yang lebih penting lagi adalah dalam rangka pendidikan tunas-tunas muda.”[9]

Di tempat lain, Haans menyebutkan 7 masalah-masalah akud yang umumnya kita temukan di perkotaan masa kini, yaitu:

“a. Masalah kerja dan pengangguran. Saat ini diperkirakan 40 (empat puluh)
juta pengangguran terdiri dari tenaga kerja trampil dan non trampil. Pekerjaan
tidak selalu disesuaikan lagi dengan latar belakagn pendidikan. Pengangguran
menjadi beban bagi keluarga dan pemerintah. Pengangguran telah
menimbulkan kerawanan sosial....b. Hubungan-hubungan perusahaan dengan
buruh....c. Ketimpangan sosial (kemiskinan, kekayaan dan hidup
sederhana)....d. Perkawinan dan perceraian. Perubahan konsep terhadap
perkawinan, ilah-ilah zaman perkawinan, longgarnya nilai-nilai, komitmen
yang berubah, masalah komunikasi, pendidikan anak, masalah tempat tinggal
dan ekonomi, tindak kekerasan dalam keluarga, perselingkuhan. e. Masalah-
masalah moral. New morality: kota dan kesempatan, masalah-masalah tempat
kost, kontrol masyarakat yang longgar, pergaulan bebas, perselingkuhan,
aborsi, masalah prostitusi, pornografi, pengaruh media, sekularisasi, hedonisme
dan materialisme. Semua ini mempengaruhi moral masyarakat. f. Stress dan
depresi. Stress dan depresi menjadi salah satu masalah yang akut di perkotaan.
Orang stress makin banyak, orang gila bermunculan sementara belum terdapat
pelayanan yang sungguh-sungguh terbeban dalam masalah ini. g. Sadisme dan
kekerasan. Persoalan-persoalan perkotaan telah menimbulkan tindakan sadisme
dan kekerasan (curas, masalah iri hati, sentimen sosial, egoisme, emosi yang
tidak stabil) melahirkan tindakan-tindakan yang tidak lajim.”[10]

Peluang Gereja Dalam Melayani Masyarakat Kota

Gereja ada adalah dengan maksud untuk menghadirkan ‘shalom’ ke dalam dunia termasuk kota.  Kata ‘shalom’ mencakup tiga ide:

“seutuhnya, well being dan harmony. Claus Westermann mengungkapkan sbb:
“Untuk membuat sesuatu menjadi lengkap, atau untuk membuat sesuatu
menjadi menyeluruh atau menyeluruh. Arti dasar shalom adalah kesejahteraan
material dan jasmani, namun juga diekspresikan dalam lingkup politik dan
militer. Shalom adalah sebuah konsep sosial yang lebih melihat kemakmuran
untuk kelompok daripada untuk individu atau yang melihat kesejahteraan
sebuah komunitas atau sebuah bangsa lebih utama daripada seseorang.
Beberapa ayat yang menggarmbarkan shalom: a. Shalom dalam hubungan (Ul.
6:5); b. Shalom dalam keluarga (Kej. 2:24); c. Shalom dalam komunitas (Kel.

20:12-17).”[11]

Karena itu, tantangan yang begitu hebat di tengah-tengah masyarakat perkotaan justru adalah juga sekaligus peluang bagi gereja untuk menghadirkan shalom bagi masyarakat perkotaan.  Gereja tidak cukup hanya menggeluti upaya-upaya pelayanan yang bersifat ke dalam.  Gereja juga perlu melihat ke luar dan di tengah-tengah tantangan yang besar di perkotaan kita melihat banyak gereja yang tetap eksis dan bertumbuh dengan baik serta memberi dampak yang besar bagi kotanya.

Joel Comiskey menyebutkan 8 di antaranya[12], yaitu:

Singkatan

Nama

Lokasi

Gembala

Jumlah Jemaat

BWPC

Bethany World Prayer Center

Baker, LA USA

Larry Stockstill

7.000

CCG

The Christian Center of Guayaquil

Guayaquil Ekuador

Jerry Smith

7.000

EC

Elim Church

San Salvador El Salvador

Jorge Galindo

35.000

FCBC

Faith Community Baptist Church

Singapura

Lawrence Khong

6.500

ICM

The International Charismatic Mission

Bogota, Colombia

Cesar Castellanos

35.000

LAC

Love Alive Church

Tegucigalpa, Hounduras

Rene Penaiba

7.000

LWC

Living Water Church

Lima, Peru

Juan Capuro

7.000

YFGC

Yoido Full Gospel Church

Seoul, Korea

David Cho

153.000

Di beberapa kota di Indonesia juga tercatat beberapa gereja yang terus bertumbuh dengan baik, seperti Gereja Bethel Indonesia (GBI) Keluarga Allah yang berlokasi di kota Solo yang kini bertumbuh mencapai 20.000 jumlah jemaat.[13] Demikian juga pelayanann gereja Abba Love Ministry yang terus berkembang mencapai 16.000 jumlah jemaat.[14] Data-data ini menunjukkan bahwa di tengah-tengah tantangan yang begitu hebat, gereja di perkotaan tetap dapat bertumbuh dan memberi pengaruh yang luas pada masyarakat.  Christian A. Schwarz, menyebutkan bahwa gereja akan terus bertumbuh dan memberi dampak pada masyarakat karena di dalam dirinya sendiri karena kehadiran dan intervensi Allah, gereja mempunyai potensi untuk bertumbuh yang diistilahkan dengan “pertumbuhan gereja alamiah”.  Dalam uraiannya ia menyebutkan bahwa gereja mempunyai potensi untuk bertumbuh dengan sendirinya, karena Allahlah yang memberi pertumbuhan (1 Kor. 3:7).  Potensi untuk bertumbuh dengan sendirinya ini dapat kita lihat dan pelajari juga dalam organisme yang lain seperti binatang dan tumbuh-tumbuhan sebagai upaya yang diberikan Allah untuk mempertahankan kelangsungan hidup.    Schwarz berkata:

“Istilah “potensi pertumbuhan ‘dengan sendirinya’ yang bersumber dari Allah”
berada pada inti dari definisi kita mengenai “pertumbuhan gereja yang
alamiah”. Konsep alkitabiah di balik istilah ini digambarkan paling baik dengan
firman Allah dalam Markus 4:26-29: Lalu kata Yesus: “Beginilah hal kerajaan
Allah itu: seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, lalu pada malam
hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas
dan tunas itu makin tinggi, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu.
Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu
bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu. Apabila buah
itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai sudah
tiba.” ...Istilah yang digunakan dalam bahasa Yunani adalah automate – secara  
harafiah diterjemahkan sebagai “dengan sendirinya.” Jadi kutipan dari Markus
ini secara eksplisit berbicara tentang “potensi pertumbuhan ‘dengan
sendirinya’!” Tentu saja, bagi orang Yahudi potensi pertumbuhan “dengan
sendirinya” ini tidak akan pernah dikaitkan dengan alam yang seperti Allah.
Dalam konteks perumpamaan tersebut, kata ini hanya berarti “dikerjakan oleh
Allah Sendiri.” Dalam menerapkan ide ini pada kehidupan jemaat, terlihat
bahwa pertumbuhan tertentu kelihatannya terjadi “dengan sendirinya,” atau
“secara otomatis.” Akan tetapi, orang Kristen tahu – walaupun tidak dapat
dibuktikan secara nyata – bahwa buah yang kelihatannya bertumbuh dengan
sendirinya
sebenarnya adalah pekerjaan Allah.”[15]

Campur tangan Allah membuat gereja dapat memberi dampak pada kotanya.  Dan menurut penulis, beberapa peluang pelayanan yang Viagra dapat dilakukan oleh gereja untuk memberi dampak perubahan bagi kota adalah:

Satu.  Pelayanan Misi Perkotaan.  Pelayanan misi tentu tidak hanya melulu dilakukan bagi suku-suku terabaikan atau bagi suku-suku di daerah terpencil.  Masyarakat kota juga adalah sasaran dari pelayanan misi.  Dalam Lukas 5:12-16 kita melihat sebuah model ‘urban ministry’ yang dilakukan oleh Yesus.  Karena satu orang kusta telah disembuhkan oleh Tuhan Yesus, maka tersiarlah kabar tentang Yesus di kota yang mengakibatkan banyak orang berbondong-bondong datang kepada-Nya untuk mendengarkan Dia dan untuk disembuhkan dari berbagai penyakit yang melanda masyarakat ketika itu.  Pelayanan misi perkotaan dapat dilakukan dengan melayani masyarakat miskin dan papah dan para buruh.

Dua.  Pelayanan ‘market place’ atau dunia usaha.  Menurut Ed Silvoso, market place adalah perpaduan antara dunia bisnis, pendidikan dan pemerintahan.  Ia mengungkapkan bahwa:

“Dunia usaha – suatu perpaduan antara dunia bisnis, pendidikan dan
pemerintahan – adalah sebuah kota besar yang merupakan jantung bagi
manusia. Melalui tiga arteri tersebut mengalirlah kehidupan suatu kota. Sebuah
kota tidak bisa ada tanpa sebuah dunia usaha, sama seperti manusia tidak dapat
hidup tanpa sebuah jantung.”[16]

Dengan demikian pelayanan market place adalah pelayanan yang ditujukan bagi masyarakat kota yang ada di dunia bisnis (perusahaan, perbankan), pendidikan dan pemerintahan (termasuk politik).  Penulis mengamati bahwa di kota Bandung gereja cukup tanggap untuk melakukan pelayanan di tiga bidang ini, sehingga muncullah persekutuan-persekutuan di perusahaan-perusahaan, bank-bank, sekolah-sekolah dan perguruan tinggi[17], dan beberapa jemaat yang memiliki kapabilitas juga terlibat dalam dunia politik[18], dan gereja bekerjasama dengan pemerintahan dalam aksi penanaman sejuta pohon.[19] Dan beberapa gereja di kota Bandung didukung oleh dana dan sumber daya manusia yang kuat juga membangun sekolah-sekolah bermutu dari tingkat Taman Kanak-Kanak (TK) seperti TK Trimulia, Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), seperti SD, SMP, SMA Badan Penabur Kristen (BPK), Institut seperti Institut Teknologi Harapan Bangsa (ITHB), Universitas seperti Universitas Kristen Maranatha.

Tiga.  Pelayanan konseling.  Mengingat di kota terjadi peningkatan orang stress dan depresi sebagai akibat beratnya tekanan hidup, maka gereja berpeluang untuk melayani masyarakat kota melalui pelayanan konseling.  Menurut Gary R. Collins konseling adalah:

“Hubungan timbal balik antara dua individu, yaitu konselor yang berusaha
menolong atau membimbing dan konsele yang membutuhkan pengertian untuk
mengatasi persoalan yang dihadapinya. Dalam hal ini seorang konselor Kristen
akan berusaha mengaplikasikan firman Tuhan atas persoalan-persoalan hidup
ini.”[20]

Artinya, melalui pelayanan konseling gereja mempunyai kesempatan juga untuk memberitakan firman Tuhan bagi mereka yang sedang mengalami masalah-masalah di dalam kehidupan mereka.

Semua itu menunjukkan bahwa gereja tidak cukup hanya memperhatikan pelayanan yang bersifat ke dalam tetapi juga ikut mengusahakan kesejahteraan masyarakat melalui pelayanan yan bersifat holistik.

Unsur-Unsur Yang Perlu Ditambahkan Dalam Pelayanan Gereja

Untuk mengerjakan pelayanan yang bersifat holistik, ada tiga unsur yang perlu ditambahkan ke dalam pelayanan gereja, yaitu:

Satu. Kasih.  Ken Blanchard dan Phil Hodges, dalam bukunya “Tempat Terindah Di Belantara Kota” menjelaskan 9 hal yang tercakup di dalamnya, yaitu:

“1. Kesabaran: Kasih yang sabar menanggung kejahatan, luka, dan hasutan,
tanpa dipenuhi amarah, perasaan jengkel, atau balas dendam....2. Kebaikan:
Kasih yang baik adalah hidup. Kebaikan dicari untuk menjadi bermanfaat.
Tidak hanya untuk meraih kesempatan guna melakukan hal yang baik, tetapi
juga mencarinya....3. Kemurahan Hati: Kasih sebagai sikap murah hati tidak
cemburu terhadap nasib baik atau prestasi orang lain. Jika kita mengasihi
tetangga kita, kita tidak akan cemburu pada mereka dan pada apa yang mereka
miliki atau kerjakan, tetapi justru kita ikut berbagi sukacita di dalamnya....4.
Kesopanan: Kasih sebagai sikap sopan adalah kasih dalam hal-hal
kecil....Kesopanan menghindari ketidaksopanan dan ketidakenonohan bahasa
dan sikap serta ungkapan kasar yang menyakitkan telinga dan hati orang
lain....5. Kerendahan Hati: Kasih sebagai sikap rendah hati tidak
mempromosikan atau menarik perhatian untuk diri sendiri, tidak sombong,
tidak membusung oleh kecongkakan diri,....6. Ketidakegoisan: Kasih sebagai
sikap tidak egois tidak pernah menggunakan dirinya untuk mencelakakan atau
merugikan orang lain, atau sikap mengabaikan orang lain....7. Sifat Baik: Kasih
sebagai sifat baik mengendalikan nafsu dan tidak menyakiti hati....8.
Keterusterangan: Kasih sebagai sifat berterus terang tidak memiliki pikiran
jahat, tidak memiliki motif buruk, melihat sisi baik dari segala sesuatu, dan
memberi bentuk terbaik dari setiap tindakan....9. Ketulusan: Kasih sebagai
sikap tulus maksudnya, tidak merasa nyaman ketika menyakiti atau melukai
orang lain atau ketika membicarakan kesalahan orang lain....”[21]

Kasih memberikan kekuatan kepada gereja untuk melayani semua lapisan masyarakat atau strata sosial yang ada dalam masyarakat perkotaan.  Jika masyarakat kota pada umumnya bersifat individualistik, maka ketika gereja menyatakan kepedulian yang besar bagi masyarakat karena didorong oleh kasih Kristus, tentu gereja akan memberi dampak yang besar bagi masyarakat kota.

Kedua. Komunikasi.  Injil perlu dikomunikasikan baik secara verbal maupun non verbal.  David J. Hesselgrave menyebutkan tentang betapa pentingnya komunikasi dalam tugas pemberitaan Injil, sekalipun ia memberi contoh tentang pentingnya komunikasi bagi para misionaris ketika melaksanakan tugas mereka terutama dalam budaya yang berbeda, tetapi penjelasannya juga dapat diterapkan dalam konteks pelayanan gereja bagi masyarakat perkotaan karena di kota telah terjadi perjumpaan antar berbagai kebudayaan dan bahasa.  Hesselgrave berkata:

“The missionary task is fundamentally one of communicaton. In a very real
sense the missionary paricipates in man's basic challenge, for while
communication is an elemental human activity, it also constitutes a
fundamental human problem-perhaps second only to the problem of his Adamic
nature! In fact some theorists insist that in the most ideal relationship between
source and respondent of the same culture, communication is only about 80
percent effective.”[22]

Jika diartikan kalimat tersebut berbunyi: Tugas misionaris yang paling mendasar adalah komunikasi.  Dalam arti yang sebenarnya misionaris berpartisipasi dalam tantangan dasar manusia, untuk sementara komunikasi adalah unsur dasar aktivitas manusia, juga merupakan masalah dasar  manusia-mungkin kedua dari masalah natur Adam! Bahkan beberapa teori bersikeras bahwa dalam hubungan paling ideal antara sumber dan responden dari budaya yang sama, komunikasi hanya sekitar 80 persen efektif.  Kenyataan itu tentu berimplikasi kepada pentingnya komukasi bagi tugas pelayanan gereja bagi masyarakat kota dalam rangka memberitakan Injil melalui pelayanannya di tengah-tengah pertemuan antara bahasa dan kebudayaan yang terjadi dalam masyarakat kota.

Tiga. Pemanfaatan media dan tekonologi.  Ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) telah maju dengan pesat.  Menurut Supardan iptek kini telah menjadi tumpuan harapan masyarakat karena dipandang dapat membantu manusia menyelesaikan sejumlah persoalan di dalam kehidupannya.[23] Dan tidak salah gereja memanfaatkan media serta kemajuan teknologi untuk menunjang pelayanannya.  Dengan kemajugan tekonologi kita gereja dapat melakukan pelayanan dalam skala yang jauh lebih luas dan menyingkat banyak waktu.

BAB V

KESIMPULAN

Masyarakat kota berkembang amat cepat sehingga menarik minat banyak orang untuk mengadu nasib di kota.  Hal ini telah menimbulkan arus urbanisasi yang sangat sulit dibendung. Orang-orang yang datang ke kota tidak selalu mempunyai pendidikan dan ketrampilan yang memadai dan sering kali tidak siap mengikuti perkembangan dan perubahan yang terjadi di kota. Akibatnya mereka mengalami stress karena tidak sanggup berkompetisi. Tekanan sering dirasakan amat berat.  Di kota seringkali orang berkompetisi negatif untuk memperoleh kepuasan sesaat. Perkembangan masyarakat kota yang sedemikian cepat pada akhirnya menimbulkan masalah-masalah perkotaan yang bersifat akud, seperti: (1) Masalah kerja dan pengangguran serta dinamika sosial di dalamnya seperti: hubungan majikan dengan pekerja, (2) Ketimpangan sosial yang sangat tajam antara si kaya dan si miskin, (3) Perkawinan dan perceraian karena perubahan konsep/nilai-nilai terhadap perkawinan, (4) Masalah-masalah moral, seperti: perselingkuhan, aborsi, hedonisme, materialisme, pergaulan bebas, (5) Stress dan depresi - terjadi peningkatan jumlah orang stress dan depresi yang signifikan, (6) Sadisme dan kekerasan.

Berdasarkan hal-hal tersebut maka menurut penulis berpendapat bahwa gereja yang melayani masyarakat perkotaan seyogyanya adalah gereja yang mempunyai pelayanan yang menyangkut banyak aspek (holistik) yang dapat menjawab kebutuhan-kebutuhan yang dirasakan secara langsung oleh masyarakat perkotaan. Artinya, ruang lingkup pelayanan gereja yang melayani masyarakat perkotaan haruslah seluas dinamika dan persoalan yang dirasakan oleh masyarakat perkotaan itu sendiri. Dan jika gereja hendak memberi dampak kepada masyarakat perkotaan maka gereja tidak cukup hanya menyelenggarakan ibadah, gereja juga harus berperan aktif dan kreatif untuk turut mewarnai hidup masyarakat kota agar dapat terjadi pembaharuan. Untuk itu pelayanan gereja pada masyarakat perkotaan harus menyentuh masalah-masalah: (1) ketimpangan sosial, (2) pendidikan, (3) keluarga (4) moral, (5) stress dan depresi (6) penggunaan narkotika (7) pemberdayaan ekonomi (8) politik dan pemerintahan, dan dalam pelayanan tersebut gereja di perkotaan dituntut untuk juga memanfaatkan media informasi dan tekonologi seluas-luasnya.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Blanchard,  Ken dan Hodges, Phil.  Tempat Terindah Di Belantara Kota.  dit.    
oleh Yohanes Agustono.  Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009.

Collins, Garry R.   Konseling Kristen Yang Efektif.  Malang: Seminari Alkitab
Asia Tenggara, 1996.

Comiskey, Joel.  Ledakan Kelompok Sel. dit.  oleh Vieralisa.  Jakarta: Metanoia,
1998.

Haans, Jantje.  Diktat Kuliah Pelayanan Masyarakat Kota. Bandung:
Kharisma, 2010.

Hesselgrave, David J.  Communicating Christ Cross-Culturally.  Grand
Rapids, Michigan: Zondervan Publishing House, [t.  th].

Manullang, Rachmat T.  Gereja Sekota Yang Mentransformasi Kota.  Jakarta:
Metanoia, 2003.

Schwarz, Christian A.   Pertumbuhan Gereja Yang Alamiah.  dit.  oleh
Budijanto.  Jakarta: Metanoia, 1996.

Silvoso, Ed.   Diurapi Untuk Bisnis.  dit.  oleh Claudia Kristiani.  Jakarta: Nafiri
Gabriel, 2006.

Soekanto, Soerjono.  Sosiologi.  Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1998.

Supardan,  Ilmu, Teknologi dan Etika.  Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996.



[1]Rachmat T. Manullang, Gereja Sekota Yang Mentransformasi Kota, (Jakarta: Metanoia, 2003), hlm.  39.

[2]Ibid.  hlm.  40

[3]Jantje Haans, Diktat Kuliah Pelayanan Masyarakat Kota, (Bandung: Kharisma, 2010), hlm.  1.

[4]Ibid.

[5]Ibid.

[6]Soerjono Soekanto, Sosiologi (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1998), hlm.  175.

[7]Ibid.

[8]Ibid.  hlm.  175-176.

[9]Ibid.  hlm.  176.

[10]Haans, Diktat, hlm.  3-5.

[11]Ibid.  hlm.  8.

[12]Joel Comiskey, Ledakan Kelompok Sel, dit.  oleh Vieralisa (Jakarta: Metanoia, 1998), hlm.  15.

[13]Penulis sendiri mendengar penjelasan dari Gembala Sidang gereja tersebut yaitu Pdt. Obaja Tanto Setiawan, di acara Kharisma Conference bahwa kini mereka sedang mengembangkan pelayanan radio, televisi lokal dan pendidikan dan berbagai kegiatan sosial lainnya untuk memberkati kota Solo.

[14]Eddy Leo, gembala sidang gereja tersebut menjelaskannya demikian dalam salah satu ibadah minggu mereka di Nam Center yang penulis ikuti.

[15]Christian A. Schwarz, Pertumbuhan Gereja Yang Alamiah, dit.  oleh Budijanto (Jakarta: Metanoia, 1996), hlm.  12.

[16]Ed Silvoso, Diurapi Untuk Bisnis, dit.  oleh Claudia Kristiani (Jakarta: Nafiri Gabriel, 2006), hlm.  V.

[17]Penulis beberapa kali di undang untuk menyampaikan firman Tuhan di beberapa perusahaan dan di persekutuan-persekutuan kampus (PMK) di beberapa perguruan tinggi di kota Bandung.

[18]Peran gereja bagi perubahan politik dan pemerintahan dipresentasikan oleh Henry Panggabean Anggota Komisi A DPRD Kota Bandung yang diusung dari salah satu partai politik yang mana yang bersangkutan adalah juga anggota salah satu gereja di Bandung yang juga terbeban bagi perubahan tatanan politik dan pemerintahan kota Bandung.

[19]Penulis mendengar sendiri dalam ceramah perkuliahan Pelayanan Masyarakat Kota yang diampu Bapak Jantje Haans, bahwa gereja-gereja di kota Bandung melalui wadah Persatuan Gereja-Gereja dan Perkumpulan Kristen (PGPK) kota Bandung menggalang kerjasama dengan Pemerintah Kota Bandung dalam aksi penanaman sejuta pohon di sepanjang sungai Ciliwung.

[20]Garry R. Collins, Konseling Kristen Yang Efektif, (Malang: Seminari Alkitab Asia Tenggara, 1996), hlm.  3.

[21]Ken Blanchard dan Phil Hodges, Tempat Terindah Di Belantara Kota, dit.  oleh Yohanes Agustono (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009), hlm.  132-136.

[22] David J. Hesselgrave, Communicating Christ Cross-Culturally, (Grand Rapids, Michigan: Zondervan Publishing House, [t.  th]), hlm. 61.

[23]Supardan, Ilmu, Teknologi dan Etika, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996), hlm.  v.

E Learning

Articles

artikel-umum

Images Gallery

06.jpg

Pengunjung

00673120
Today
Yesterday
All days
693
265
673120

We have 18 guests and no members online

Link


bottom